11 Januari 2008

BALADA PAIJO

BALADA PAIJO

Suatu ketika Paijo merencanakan pergi ke Jakarta untuk menengok keponakannya yang sedang dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Pagi-pagi Paijo dan keluarganya mengemasi barang-barangnya. Beberapa orang tetangganya juga membantu.
“Saya hampir selesai berkemas-kemas dengan barang saya”, kata Paijo kepada salah seorang tetangganya.
“Ada satu barang sampeyan yang tidak dapat di kemas mas Paijo, yaitu Radio kecil sampeyan !”, kata tetangganya itu.
“ Kenapa begitu ?”, tanya Paijo.
“ Untuk membayar utang sampeyan pada saya !”.
Padahal barang yang akan dikemas itu adalah radio kecil yang akan dijual di Jakarta untuk omgkos pulang kembali ke desa nanti. Maklum Paijo, hanya seorang buruh tani di desanya. Jadi kalau pergi kemana-mana hanya membawa ongkos pas-pasan, sedangkan untuk pulangnya biasanya dia membawa barang yang dapat dijual yang cukup untuk ongkos pulang. Dia berpikir kalau bawa uang untuk ongkos pulang pergi khawatir hilang di jalan.
Walaupun Radionya disita tetangganya, Paijo tetap berangkat nengok keponakannya yang sakit itu. Paijo berangkat dengan anaknya, mereka naik Kereta Api Ekonomi. Bagi anaknya, naik Kereta api merupakan pengalaman yang pertama. Oleh karena itu walaupun Kereta Api belum berangkat, dia sudah naik duluan dan mondar mandir dari satu gerbong ke gerbong yang lain.
Sejam kemudian, anaknya bertanya kepada seorang bapak yang duduk diisampingnya.
Dengan sangat hati-hati dan sangat sopan anak Paijo bertanya kepada orang yang duduk disampingnya tadi.
“Mohon ma’af pak, numpang tanya nama Stasiun yang kira-kira sejam kita lewati tadi namanya apa ya ?”, tanya anak Paijo berulang kali. Tetapi tetap saja orang itu diam saja tidak menyahut sepatah kata pun.
Hampir sejam kemudian anak Paijo tanya lagi kepada orang tadi. Orang tadi akhirnya mau menjawab tetapi sambil membentak : “Apa-apaan sih sampeyan itu, dari tadi tanya melulu ?”.
“Tapi pak !”
“Tapi … tapi, apa sih sampeyan itu ?”
“Pak Paijo, Bapak saya terkunci dalam WC di Stasiun tadi !”

(diilhami dari : “Balada Paijo”, Aya Media Pustaka : Jakarta, 32)